Simak Kisah Cerita Umrah at Saudi Arabia

 kalau ke luar negeri pertama kali pinginnya ke tanah suci untuk umrah atau haji Cerita Umrah [Saudi Arabia]

 

Saya dulu pernah berdoa, kalau ke luar negeri pertama kali pinginnya ke tanah suci untuk umrah atau haji. Tapi kenyataannya saya menginjakkan kaki ke luar negeri pertama kali malah ke Singapore sebab ada field trip dari kampus. Saudi Arabia yaitu negara ke-3 yang saya kunjungi sesudah Singapore dan Thailand.  Simak Kisah Cerita Umrah at Saudi Arabia

Tapi itulah rezeki yang selalu tiba dari arah yang tidak disangka-sangka.



Bagi saya dikala itu, pergi ke tanah suci terasa tak terjangkau, sebab mahal banget dengan kondisi saya yang masih berstatus mahasiswa. Meski kalau kita pergi beribadah ke tanah suci Tuhan menjanjikan mengganti setiap sen-nya dan meskipun saya sudah nabung semenjak SMA, tapi rasanya tabungan saya tak kunjung cukup untuk pergi ke sana, padahal hati saya udah menjerit pengeeeen banget sholat di depan ka’bah, pengen ke Raudhah, dll, wes mbuh piye carane. #pasrah

Sempat hati berbelok arah pengen pergi jalan-jalan ke Eropa buat lihat gondola & kanalnya di Venezia, menara Eiffel di Paris, la Sagrada Familia di Barcelona, Windmolen di Belanda, dan daerah wisata sebangsanya. Pokokmen yang mainstream dan terlihat wow keren. Tapi ternyata Alhamdulillah, Tuhan selalu mengembalikan hati saya yang melenceng itu untuk kembali fokus ingin beribadah ke tanah suci.
Setelah saya lulus kuliah, Tuhan memperlihatkan saya rezeki. Berbekal traktiran dari tante, balasannya saya sanggup pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umrah tahun 2008. Waktu itu rame-rame bareng tante, sepupu dan saudara lainnya.
Masih cupu, namanya juga gres pertama kali. Tapi saya banyak dibimbing sama tante yang udah berpengalaman plus saya pun sudah mengantongi pengalaman pergi ke luar negeri sebelumnya. Alhamdulillah ada gunanya ternyata 🙂

Umrah babak pertama ini rutenya Semarang-Jakarta-Jeddah-Madinah-Makkah-Jeddah-Jakarta-Semarang dengan maskapai Garuda Indonesia. Waktu itu belum ada Garuda Indonesia yang landing eksklusif Madinah.
Sesampainya di Jeddah, saya kaget. Orang segitu banyak antri imigrasi, petugas imigrasinya geje semua, antrian mengular naga panjangnya. Astaghfirullah….
Pingin misuh tapi kok petugas imigrasinya ganteng-ganteng. #eh
Alhamdulillah semua berjalan lancar dan tidak menunggu waktu terlalu usang sudah sanggup mampu cap imigrasi Saudi Arabia di paspor.

Lanjut perjalanan ke Madinah. Sampai Madinah, lihat Masjid Nabawi pertama kali saya takjub setengah hidup. Sungguh indah dan mendamaikan. Minum air zam-zam pertama kali pas masuk Masjid Nabawi, rasanya mak nyesss, nikmat tak terhingga. Sampai waktu sholat, dengar bunyi adzan dan imam bikin saya nangis tiada henti. 
Saya pun takjub pas lihat kubah dalam masjid geser kebuka dan payung-payung di pelataran yang terkembang. 
Yang paling seru yaitu dikala masuk Raudhah. Rasanya deg-degan banget, sebab berasa mau ketemu Rasulullah secara langsung. 
Masuk Raudhah butuh perjuangan, sebab umpel-umpelan. Maklum, tempatnya kecil peminatnya banyak, waktunya (untuk jamaah perempuan) terbatas. Alhamdulillah sanggup Sholat dan berdoa di sana.

Perjalanan dilanjutkan menuju Makkah, dengan mengambil miqat umrah di Bir Ali. Sepanjang perjalanan saya berfikir, betapa beratnya Rasulullah dikala itu, perjalanan dari Madinah ke Makkah dengan mengendarai önta selama 7 hari 7 malam melewati gurun-gurun tandus yang panas, dengan tetap menjaga larangan-larangan ihram. Alhamdulillah kini kita sudah sanggup menikmati kemudahan bus AC dan cuma 6 jam perjalanan, tidak seharusnya kita mengeluh apalagi misuh.

 

Baca artikel lainnya : 

15 Hotel dan Villa Romantis di Bali – Sangat Cocok buat Pasangan Honeymoon


Sampai di Makkah, lihat Ka’bah pertama kali saya eksklusif lemes, air mata mengalir tiada henti. Rasanya menyerupai mimpi, saya sanggup berada di depan Ka’bah yang selama ini cuma saya lihat di gambar dan di TV. (jaman itu masih belum ngetren nonton yusub youtube). Menjalankan ibadah umrah (tawaf, sa’i, tahallul) ternyata tidak berat menyerupai yang dibayangkan. Semuanya mudah, nikmat, dan menyenangkan. 

Selama ibadah di tanah suci, hati rasanya tenang & benar-benar nikmat. Lupa segala urusan dunia. Karena kita serasa berada begitu akrab dengan Sang Pencipta.
Tidak pernah ada jamaah yang kapok pergi ke tanah suci, termasuk saya. Sampai balasannya saya berdoa, saya pingin ada sticker umrah & cap Saudi Arabia di setiap paspor saya (dalam rentang waktu 5 tahun, paling tidak saya pingin umrah sekali). Aamiin….

 kalau ke luar negeri pertama kali pinginnya ke tanah suci untuk umrah atau haji Cerita Umrah [Saudi Arabia]



Memang sih, kalau belum pernah kesana itu rasanya awang-awangen. Banyak yang menunda atau bahkan tidak berkeinginan untuk umrah/haji karena:
– masih muda, umrah/hajinya nanti aja kalau udah tua
– masih banyak keperluan (duniawi tentu saja)
– merasa banyak dosa
– merasa tidak kaya/tidak punya uang banyak
– merasa belum siap/masih ragu 
– menunggu hidayah
– menunggu semuanya beres (nunggu punya suami/istri, nunggu anak lulus kuliah, nunggu punya jabatan, nunggu punya rumah, nunggu punya mobil, nunggu macem-macem deh ah)
– takut perbuatan buruknya dibalas di tanah suci
– takut duitnya habis

Padahal,
Beribadahlah ke tanah suci selagi muda, sebab tubuh kita masih sehat, fisik kuat, tenaga prima, pikiran masih fresh. Bayangkan kalau sudah tua, jalan udah susah, tenaga udah lemah, pikiran udah nggak karuan, praktis encok & masuk angin pula 🙁
– Keperluan duniawi tidak akan ada habisnya dari kita lahir hingga kita mati. Cobalah untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Bukalah 2 tabungan, satu untuk keperluan dunia (beli ini itu), satu lagi untuk keperluan alam abadi (umrah, haji, qurban, shodaqah, zakat, infaq, waqaf). Kalau kita mau niscaya kita bisa. Yakin!
– Semua insan niscaya banyak dosa. Dengan kita beribadah ke tanah suci, kita memohon ampun atas dosa-dosa kita sekaligus beribadah mencari & mengumpulkan pahala sebanyak mungkin di sana. Biar timbangan amal kita impas, syukur-syukur banyakan pahalanya.
– Ibadah ke tanah suci memang mahal, tapi rezeki itu jaminan Tuhan dan selalu tiba dari arah yang tak disangka-sangka, menyerupai pengalaman saya di atas, dan mungkin banyak lagi pengalaman orang yang tidak kaya/tidak punya uang banyak yang sanggup beribadah ke tanah suci bahkan dengan tanpa biaya.
– Kalau ditanya siap, niscaya kita akan jawab tidak siap. Tapi hingga kapan? Bahkan mati pun kita tak akan pernah siap & tak akan pernah ditanya sudah siap mati atau belum. Yang penting yaitu keyakinan akan kekuasaan Tuhan SWT. Semakin yakin hati kita, semakin ingin kita akrab dengan-Nya.
Hidayah itu dicari bukan ditunggu. (Emangnya bus kota, ditungguin usang bener gres lewat). Perbanyaklah mengkaji ilmu agama semoga hidayah itu tiba menyapa.
– Hidup ini tidak ada yang pasti, termasuk apa yang kita tunggu. Yang sudah niscaya yaitu mati. Sebelum masa berlaku kita habis di dunia, berlomba-lombalah kita mengumpulkan banyak pahala. Bukan malah berlomba mengumpulkan harta. Dan ibadah kita ini akan kita pertanggung jawabkan secara individu, bukan rame-rame. Makara jangan tunggu-tungguan.
– Allah berjanji akan menghitung dan akan membalas amal-amal kita kelak di hari kemudian (yaum al hisab). Jika Tuhan memberi kemudahan atau kesulitan dalam pelaksanaan ibadah kita di tanah suci, itu merupakan belahan dari ujian terhadap kesabaran kita. Berperasangka oke kepada Allah, sebab Tuhan sesuai prasangka hamba-Nya. 
– Tenang, Tuhan akan mengganti setiap sen yang kita keluarkan untuk beribadah. Bagaimana kita takut dengan kefakiran, sementara kita adalah hamba Allah Yang Maha Kaya? Ingat, kesepakatan Tuhan itu pasti, gak kayak janjinya calon presiden yang 99,99% ingkar.
– Kalau masih banyak alasan-alasan lain, silakan bertanya pada diri sendiri: “Apa kabar iman?”.  Perbanyaklah mengkaji ilmu agama, datanglah ke majelis ilmu, jangan pernah putus membaca Al-Qur’an beserta terjemahannya, dan bergaullah bersama sahabat yang shaleh/shalehah.



Begitulah catatan perjalanan saya,  
Dari sini saya mengambil kesimpulan, bahwasannya ibadah ke tanah suci itu bukanlah ibadah dengan kecerdikan sebab Tuhan sanggup mengubah segala yang mustahil menjadi mungkin diluar kecerdikan kita. 
Menabunglah, berdoalah, carilah ilmu agama sebanyak mungkin, dan jangan lupa untuk banyak-banyak bersedekah.

Semoga goresan pena ini bermanfaat menguatkan teman-teman yang hatinya telah rindu melangkah ke tanah suci untuk mengumpulkan kepingan pahala dan semoga kalian dimudahkan menuju ke Baitullah.

InsyaAllah. Sekian Simak Kisah Cerita Umrah at Saudi Arabia