Masjid Sultan Riau, Wisata Sejarah di Pulau Penyengat Riau

Booking.com

Masjid Sultan Riau, Wisata Sejarah di Pulau Penyengat Riau .  Iya penyengat, nama ini tidak abnormal lagi kita dengar, ibarat nama binatang kecil, lebah. konon, ketika pulau ini belum ada penghuni ibarat sekarang, pulau ini sering disinggahi oleh nelayan atau pelaut. Saat itu ada seorang nelayan yang tengah mengambil air dan dikejar oleh sekelompok binatang kecil ibarat lebah yang mempunyai sengat. Nelayan itu pun lari sambil berteriak “Penyengat… Penyenagat… Penyengat…”. hal itu yang mengakibatkan pulau ini dikenal dengan nama Pulau Penyengat.

Apalagi ketika Sultan Riau memindahkan sentra pemerintahan ke Pulau Penyengat sekitar Tahun 1900 M, maka semakin tersohorlah nama pulau kecil ini.

 

 

 

Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan suber-sumber sejarah yakni sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 2 km dari Kota Tanjung Pinang, sentra pemerintahaan Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran panjang lebih kurang 2.000 meter dan lebar lebih kurang 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam.



Booking.com

 

 

Pulau Penyengat merupakan salah satu obyek wisata di Kepualau Riau. Di pulau ini terdapat banyak sekali peninggalan bersejarah yang diantaranya yakni Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari jagoan nasional Raja Ali Haji, komplek istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi, dll. Sejak tanggal 19 Oktober 1995, Pulau Penyengat dan Komplek Istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO (United Nasional Education, Scientific and Cultural Organization) untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.

 

Baca Juga :

Air Terjun Mangku Sakti, Terpaku Menatap Keindahan Air Terjun di Lombok

 

Sejarah Pulau Penyengat

Alkisah, nama pulau penyengat muncul dalam sejarah Melayu pada masa ke-18 ketika meletusnya perang saudara di Kerajaan Johor Riau yang lalu melahirkan Kerajaan Siak di antara Sumatra (masih di riau). Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau (akhir masa ke-18) pimpinan Raja Haji Fisabilillah yang pada tahun 1997 diangkat sebagai jagoan nasional. Raja Ali Haji mengakibatkan pulai ini sebagai kubu penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantar, dari daerah Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.
Pada tahun 1805, Sultah Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini menerima perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, yang dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik Lingga.

Tempat-tempat Sejarah

Bermacam-macam tempat sejarah yang sanggup kita kunjungi di Pulau ini antara lain :

a. Masjid Pulau Penyengat

Masjid ini mempunyai keunikan tersendiri, yakni penggunaan putih telur sebagai adonan kapur untuk memperkuat beton kubah menara dan penggalan tertentu dari masjid. Terdiri dari 4 buah tiang beton dan pada tiap-tiap penjuru dibangun menara tempat bilal mengumandagkan adzan. Terdapat juga 13 buah kuba, dan kalau dijumlahkan dengan 4 menara tersebut diatas maka semuanya berjumlah 17 yang mempunyai makna banyak raka’at sholat wajib bagi umat Islam.

 

Di dalam masjid terdapat beberapa peninggalan sejarah, salah satu Al-qur’an yang sudah tua, serta mimbar yang masih terlihat kokoh. Sedangkan di luar masjid terdapat bangunan yang khusus di berdiri untuk tempat istirahat bagi jamaah yang sedang menunggu waktu sholat, sehingga ketika sudah berada di dalam masjid tidak ada lagi yang mengeluarkan suara.

b. Makam Engku Putri Permaisuri Sultan Mahmud

Makam Engku Putri terletak di daerah yang disebut “Dalam Besar”. Pusaranya dikelilingi tembok, di tengah-tengah tembok terdiri dari sebuah bangunan dan makam Engku Putri terdapat di dalam bangunan tersebut. Di komplek makam Engku Putri ditemui pula makam tokoh-tokoh kerajaan di Riau. Engku putri mempunyai nama orisinil Raja Hamidah, ia yakni putri Raja Haji yang populer dalam sejarah Riau-Lingga, Johor dan Pahang.

 



c. Bekas Istana Raja Haji Ali Marhum Kantor

Komplek bekas istana Marhum Kantor ini hampir sebesar lapangan bola. Terlihat dari luar gedung bangunan ini dikelilingi tembok.
d. Makam Mahrum Kampung Bulang

 

Makam Mahrum Kampung Bulang (Raja Abdul Rahman yang pertuan muda ke VII) terletak pada sebuah lereng bukit beberapa ratus meter dibelakang masjid Pulau Penyengat. Makam ini dikelilingi dengan tembok yang mempunyai goresan timbul. Bukit tempat makam Raja Abdul Rahman itu sendiri hingga ketika ini dikenal dengan nama Bukit Kursi.

e. Gudang Mesiu Atau Gudang Obat Bedil

Bangunan yang tidak seberapa besar ini masih terlihat utuh dan telah dilakukan pemugaran. Bangunan beton berdinding tebal ini dijadikan tempat penyimpanan Mesiu.
f. 12 Kubu (Benteng dan Parit-parit Pertahanan)
 
Pusat perbentengan ini terletak di Bukit Kursi dan di Penggawa. Benteng yang lansung menghadap Teluk Riau ini dilindungi oleh parit-parit pertahanan. Kontruksi benteng ini sangat tepat dan merupakan peninggalan terbaik untuk mempelajari sistem pertahanan di masa ke-18. Pada mulanya di benteng ini terdapat lebih kurang 90 pucuk meriam yang berukuran cukup besar, namun ketika ini yang tertinggal hanya 4 benteng di Bukit Kursi, konon kisah yang selebihnya telah di angkut ke Singapura, dijual sebagai besi renta oleh Pemerintah Belanda dan sebagian lagi dibawa ke Tanjung Pinang sebagai hiasan pinggir-pinggir jalan dan sekitar Kantor Pemerintah.

Lokasi Pulau Penyengat

Pulau Penyengat yakni sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 6 km dari Kota Tanjung Pinang, ibukota dari Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran kurang lebih hanya 2.000 x 850 m, dan berjarak lebih kurang 35 km dari pulau batam. Kaprikornus konon pepatah mengatakan, bila kita sudah hingga ke Tanjung Pinang dan tidak hingga ke Pulau Penyengat, maka kita tidak seutuhnya hingga di Tanjung Pinang, Karan di Pulau Penyengat ini menyimpan banyak kisah yang terjadi di jaman dulu masa ke-18.
 

Aksesbilitas

Dari Pekanbaru, maka sebaiknya kita memakai transportasi udara, karna lebih cepat, sanggup juga kita memakai jalan laut, tapi lebih banyak memakan waktu di perjalanan. Dari pekanbaru denga jalur bandara Sultan Syarif Kasim menuju ke Bandara Tanjung Pinang, untuk jarak tempuhnya sendiri sanggup memakan waktu lebih kurang 1 jam hingga 1,30 jam. Untuk saluran udara anda juga sanggup melewati dari pulau batam, yang jarak tempuh dari pekanbaru kurang lebih 1 jam. Dari Batam anda sanggup melanjutkan perjalanan menuju ke Tanjung Pinang memakai Kapal ferry.
Dari Tanjung Pinang anda sanggup melanjutkan perjalanan menuju ke Pulau Penyengat dengan memakai bahtera kecil yang dikenal dari penduduk tanjugn pinang dengan nama Pompong untuk menuju ke Pulau Penyengat. Dan untuk jarak tempuhnya dari Tanjung Pinang ke Pulau Penyengat akan memakan waktu lebih kurang 15 hingga 30 menit saja. Selain itu kita juga sanggup menyewa kapal (Pompong) tersebut denga biaya dulunya sekitar 80.000 hingga 100.000 per kapalnya, dan pribadi sanggup membawa anda pulang pergi.

Ayo berwisata ke Pulau Penyengat di Riau untuk melihat pribadi majemuk peninggalan prasejarah di masa dulu.